June 04, 2007

gadis pantai

Kulitnya kuning langsat. Tubuh kecil ramping. Setiap hari punggungnya dibebani bakul besar dalam gendongan selendang . Dia datang dari rumah para priyayi. Beli barang, pakaian, botol kosong, rongsokan. Sampai bakulnya penuh. Baru ia menjualnya di pasar.

Suaminya petani gagal, penjual soto ayam pikul yang juga gagal. Maka setiap hari dia terus berjalan, dari rumah kerumah dan kepasar. Dengan bakul besar di punggung. Tetap mandiri.

Barang belian yang tak laku di simpannya di bawah ambin tempat tidurnya, dirumahnya di pinggiran utara kota, sebuah pondok kayu-bambu berdindingkan gedek dilepa tahi sapi.

Barang rongsokan aneh, dinilainya cantik, juga masuk kebawah ambin bambu itu. Dengan wajah mulus berseri dihadiahkannya padaku, atau adikku bila kami datang berkunjung.

Jepang berkuasa, membatasi semua-mua. Kemandiriannya ikut terpancung. Tubuh ramping kecil itu ikut merosot tua. Pakaiannya jadi lusuh, kumuh. tangan dan kakinya yang kecil kehilangan kekuatan. Tahu aku hendak meninggalkannya pergi ke jakarta dia datang. Janjiku: Mbah, kalau sudah mampu cari rejeki sendiri nanti kukirimkan sarung untukmu.

Aku pergi ke jakarta. Dia pun pergi, hanya untuk selama-lamanya. Dia nenek darahku sendiri, pribadi yang kucintai, kukagumi, kubanggakan.

Inilah tebusan janjiku. Pada dia yang pernah ceritakan sejarah diri. Dia yang tak pernah kuketahui namanya. Maka cerita ini kubangun dari berita orang lain, dari yang dapat kusaksikan kukhayalka, kutuangkan.

by: Pramoedya Ananta Toer

No comments:

ebout me

My photo
I loved simplisity,,a I most hated in arranged, I most hated the person of quasi briliant,,I`m noting ,,,,but I loved freedom,,a I only wanted always fly,,,plowing through atmosphre,,i love it